Minggu, 25 September 2011

KRITIK


KRITIK TERHADAP KONDISI PENDIDIKAN TANAH AIR
Sebuah kritik menggelitik terhadap kondisi pendidikan di tanah air dilontarkan pakar dan praktisi pendidikan, Dr. Arief Rahman. Menurutnya, para pelaksana pendidikan di Indonesia “malas” untuk mengukur hal-hal yang lebih bersifat global. Selama ini, standar kesuksesan pelajar atau peserta didik hanya berdasarkan kecerdasan inteltual, bukan terhadap aspek-aspek lain yang sebenarnya sangat (dan lebih) dibutuhkan. Misalnya aspek moral dan budi pekerti.
Pada tataran konsep, menurut penilaian arief, sistem dan tujuan pendidikan Indonesia sebenarnya sudah sempurna. Hanya saja, pelaksanaan di tingkat bawah cenderung tidak konsisten. Parahnya lagi, kebijakan-kebijakan yang kemudian muncul malah menimbulkan situasi-situasi yang menyesatkan dunia pendidikan itu sendiri. Salah satunya adalah maraknya kemunculan sekolah-sekolah unggulan yang lebih mengedepankan prestasi akademi dan “mendewakan” aspek kecerdasan otak. Apakah memang sedemikian parah kondisi dunia pendidikan kita?
Bukan hanya itu persoalannya. Oleh karena pendidikan kita lebih “mendewakan” kecerdasan otak tanpa diimbangi bekal nurani, moralitas dan budipekerti, maka muncul kemudian adalah para “koruptor cerdas”, yang demi menggapai suatu tujuan, menghalalkan segala cara. Itu terjadi hampir di semua lini, baik di lembaga pemerintahan maupun institusi bisnis. Akumulasi dari semua itu adalah kondisi kehidupan masyarakat dan bangsa yang kian parah, sakit, dan perlu segera mendapat pertolongan darurat.

0 komentar:

Posting Komentar

 

KABAR DPC

KIPRAH KEWANITAAN

KOLOM